Blog Archive

Blog Archive

Powered by Blogger.

Labels

Labels

Pages - Menu

Saturday, April 13, 2013

BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

Unknown     1:15 PM    


BELAJAR DAN PEMBELAJARAN


PERKEMBANGAN INTELEK

Mengembangkan kemampuan intelek atau kognitif merupakan bagian tujuan pendidikan di Indonesia untuk mencerdaskan bangsa konsep perkembangan intelek menjadi masukan penting mengembangkan sistem pendidikan dan pengajaran. Pada pembagian ini. Anda akan mempelajari aspek perkembangan intelek yang  meliputi pembahasan mengenai pengertian dan  klasifikasi intelegensi, struktur pengetahuan, dan tahap perkembangan kognitif, serta faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan intelek peserta didik usia SD/MI.

A.    Pengertian dan Klasifikasi Intelegensi
Intelek adalah kemampuan jiwa atau fsikis yang relatif menetap dalam proses berpikir untuk membuat hubungan tanggapan, serta kemampuan memahami, menganalisis, mensintesiskan, dan mengevaluasi. Intelektual berfungsi dalam pembentukan konsep yang dilakukan melalui penginderaan pengamatan, tanggapan, ingatan, dan berpikir.
Konsep yang mendasari pengertian merupakan kemampuan untuk merangkap sifat, atau keterangan mengenai sesuatu dan mempunyai gambaran yang jelas dan lengkap tentang hal tersebut (Hurlock. 1990). Pengertian didasarkan pada konsep yang terbentuk melalui penginderaan. Konsep bukan kesan penginderaan secara langsung melainkan dapat merupakan penggabungan atau perpaduan berbagai hal yang disatukan dengan berbagai unsur, berbagai objek, dan situasi, sehingga situasi yang dihadapi maupun sifat benda. Konsep juga kadang mempunyai sifat efektif yaitu bobot emosional yang menjadi bagian dari konsep tersebut dan membentuk perasaan dan sikap seseorang terhadap orang, benda, atau situasi yang dikembangkan dengan konsep tersebut dan dikembangkan dengan konsep tersebut. Jadi, konsep merupakan hal yang penting karena menentukan apa yang diketahui dan diyakini seseorang dan yang akan dilakukan seseorang.
B.     Struktur Pengetahuan dan Tahap Perkembangan Kognitif
Istilah “kognitif” mulai dikemukakan pada awal tahun 60-an ketika teori Piaget ditulis dan dibicarakan. Pengertian kognitif meliputi aspek struktur intelek yang dipergunakan untuk mengetahui sesuatu, dan di dalamnya terdapat aspek persepsi, ingatan, pikiran, simbol, penalaran dan pecahan persoalan. Perkembangan kognitif merupakan proses dan hasil interaksi dinamis individu dengan lingkungannya. Ketika bekerja di laboratorium Binet-Simon yang menyelenggarakan tes intelegensi. Piaget tertarik pada jawaban-jawaban salah yang diberikan anak-anak “lebih mudah usianya. Piaget menyadari adanya jawaban yang selalu menetap dan khusus diperlihatkan berdasarkan hasil cara berpikir anak yang berbeda dengan orang dewasa. Sejak itu ia tertarik dan menghabiskan waktu cukup lama untuk mempelajari cara berpikir anak, sampai akhirnya menemukan teori perkembangan kognitif.
Kedua proses asimilasi dan akomodasi terjadi bersama dan saling melengkapi (komplementer) dalam pembentukan struktur pengetahuan seseorang semakin berkembang struktur pengetahuan seseorang lebih banyak terjadi pada semua penghadapan perkembangan kognitif ditemukan adanya hukum atau pola  yang berlaku dalam tahapan perkembangan kognitif.
Piaget membagi tahap perkembangan kognitif ke alam empat tahap, yaitu tahap sensorimotor, tahap pra-operasional, tahap konkrit operasional, dan tahap formal operasional
Ø  Tahap I, sensorimotor (0-2) tahun), pada tahap ini anak menggunakan penginderaan dan aktivitas motorik untuk mengenal lingkungannya. Diawali dengan modifikasi refleks yang semakin lebih efisien dan terarah. Dilanjutkan dengan reaksi pengulangan gerakan yang menarik pada tubuhnya dan keadaan beberapa skema untuk memperoleh sesuatu, reaksi pengulangan untuk memperoleh hal-hal yang baru serta permulaan berpikir dengan adanya ketetapan objek. Pada masa sensorimotor, berkembang pengertian bahwa dirinya terpisah dan berada dengan lingkungannya. Anak berusaha mengkoordinasikan indera dan gerak motorik. Jadi perkembangan skema kognitif anak dilakukan melalui gerak refleks. Motorik dan aktivitas indera. Selanjutnya anak juga mulai mampu mempersepsi ketetapan objek.

Ø  Tahap 2, Pra-Operasional (2-7 tahun). Pada fase ini akan belajar mengenal lingkungan dengan menggunakan simbol bahasa. Peniruan, dan permainan. Anak belajar melalui permainan dalam menyusun benda menurut urutannya dan mengelompokkan sesuatu. Jadi, pada masa pra-operasional anak mulai menggunakan bahasa dan pemikiran simbolik. Mereka mulai mengerti adanya hubungan sebab-akibat meskipun logika hubungannya belum tepat, mampu mengelompokkan sesuatu serta perbuatan rasionalnya belum didukung oleh pemikiran tetapi oleh perasaan.

Ø  Tahap 3. Konkrit Operasional. (1-7 tahun). Pada masa ini anak sudah bisa melakukan berbagai macam tugas mengkoservasi angka melalui tiga macam proses operasi, yaitu:
-          Negasi sebagai kemampuan anak dalam mengerti proses yang terjadi di antara kegiatan dan memahami hubungan antara keduanya.
-          Resipokasi sebagai kemampuan untuk melihat hubungan timbal balik, serta
-          Identitas dalam mengenali benda-benda yang ada
Dengan demikian. Pada tahap ini anak sudah mampu berpikir konkrit dalam memahami sesuatu sebagaimana kenyataannya, mampu mengkoservasi angka. Serta memahami konsep melalui pengalaman sendiri dan lebih objektif.

Ø  Tahap 4. Formal operasional (11 tahun – dewasa). Pada fase ini anak sudah dapat berpikir abstrak, hipotesis, dan sistematis mengenai sesuatu yang abstrak dan memikirkan hal-hal yang akan dan mungkin terjadi. Jadi, pada tahap ini anak sudah mampu meninjau masalah dari berbagai sudut pandang dan mempertimbangkan alternatif/kemungkinan dalam memecahkan masalah, bernalar berdasarkan hipotesis, menggabungkan sejumlah informasi secara sistematis, menggunakan rasio dan logika dalam abastraksi, memahami arti simbolik, dan membuat perikraan di masa depan.
      
C.    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Intelek
Peserta didik usia SD/MI senantiasa dihadapkan pada berbagai pengalaman di dalam dan di luar rumah atau sekolah dalam kehidupan sehari-harinya. Anak-anak dengan usia dan tingkat perkembangan kognitif yang sama dan melihat objek yang sama dapat memiliki persepsi yang berbeda-beda tentang objek tersebut.
Ada beberapa faktor yang turut menentukan dan mempengaruhi perkembangan intelek (dalam hal ini pembentukan pengertian dan konsep) anak. Diantaranya sebagai berikut;
  1. Kondisi organ penginderaan sebagai saluran yang dilalui kesan indera dalam perjalanannya ke otak (kesadaran). Misalnya konsep benda yang ditangkap atau di persepsi anak yang buta warna akan berbeda dengan yang punya penglihatan norma:
  2. Intelegensi atau tingkat kecerdasan mempengaruhi kemampuan akan untuk mengerti atau memahami sesuatu.
  3. Kesempatan belajar yang diperoleh sesuatu.
  4. Tipe pengalaman yang didapat anak secara langsung akan berbeda jika anak mendapat pengalaman secara tidak langsung dari orang lain atau informasi dalam buku,
  5. Jenis kelamin, karena pembentukan konsep anak laki-laki atau perempuan sejak kecil telah dilatih dengan cara yang dianggap sesuai dengan jenis kelaminnya
  6. Kepribadian akan dalam memandang kehidupan dan menggunakan sesuatu kerangka acuan berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan berdasarkan pada penyesuaian diri dan cara pandang anak terhadap dirinya sendiri (konsepsi diri)

Beberapa konsep umum pada anak adalah konsep mengenai kehidupan dan kematian, konsep kualitas atau hubungan sebab-akibat, konsep ruang, konsep bilangan, konsep waktu, konsep nilai uang, konsep keindahan dan kecantikan, konsep lucu gembira dan senang, konsep moral (baik/buruk atau benar/salah). Konsep diri, serta konsep sosial termasuk teman dan kelas sosial.
Dalam perkembangan intelek, dapat juga terjadi kendala dan bahaya seperti berikut ini yang mempengaruhi perkembangan anak secara keseluruhan.
1.      Kelambanan perkembangan otak yang dapat mempengaruhi kemampuan bermain dan belajar di sekolah serta penyesuaian diri dan sosial anak. Terjadinya kelambanan biasanya disebabkan oleh tingkat kecerdasan di bawah normal dan kurangnya mendapat kesempatan pengalaman.
2.      Konsep yang keliru dan salah disebabkan oleh informasi yang salah, pengalaman terbatas, mudah percaya, penalaran keliru, dan imajinasi yang sangat berperan, pemikiran tidak realistis, serta salah menafsirkan arti.
3.      Kesulitan dalam membenarkan konsep yang salah dan tidak realistik. Hal ini biasanya berkenaan dengan konsep diri dan sosial, yang kadang mengakibatkan kebingungan pada anak sehingga menghambat penyesuaian diri dan sosial anak.



PERKEMBANGAN BAHASA

Bahasa merupakan media komunikasi yang digunakan untuk mengungkapkan pesan dengan menggunakan simbol-simbol bahasa yang disepakati bersama dengan mempelajari perkembangan bahasa anak. Anda diharapkan dapat berkomunikasi dengan peserta didik secara efektif, serta memahami aspek perkembangan anak mengenai apa yang dirasakan dan diinginkan mereka melalui pengungkapannya melalui media bahasa.

A.    Pengertian, Fungsi, dan Keterampilan Berbahasa
Menurut para ahli, bahasa merupakan media berkomunikasi yang  digunakan anak menyampaikan pesan (pendapat, perasaan, dan lain-lain) dengan menggunakan simbol-simbol yang disepakati bersama, kemudian kata dirangkai berdasarkan urutan pembentuk kalimat yang bermakna dan mengikuti aturan atau tata bahasa yang berlaku dalam suatu komunitas aturan masyarakat. Adat tiga komponen utama bahasa yaitu:
1.     Bentuk atau form yang mencakup morfologi dan fonologi
2.     Isi atau content yang meliputi makna atau tematik
3.     Penggunaan tau use yang mencakup pragmatik.

Dengan kata lain dalam bahasa terkandung lima elemen, yaitu fonologi, morfologi, sintaksis, tematik, dan pragmatik. Morfologi berkenaan dengan organisasi kata-kata secara formal, ada kata yang dapat berdiri sendiri dan tidak dapat berdiri sendiri. Sintaksis berkenaan dengan aturan-aturan pembentukan kata dan kalimat (memiliki subjek, predikat, dan objek).  Morfologi berkenaan dengan ketentuan yang mengatur struktur, distribusi dan urutan kata serta bentuk ucapan. Semantik berkenaan dengan sistem aturan yang mengendalikan makan isi kata atau kalimat. Pragmatik berkenaan dengan penggunaan bahasa yang diaktan dengan tujuan tertentu.
Keterampilan berbahasa memiliki empat aspek atau ruang lingkup yaitu keterampilan mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Keterampilan mendengarkan di sekolah dasar meliputi kemampuan memahami bunyi bahasa, perintah, dongeng, drama, petunjuk, denah, pengumuman, berita, dan konsep materi pelajaran. Keterampilan berbicara meliputi kemampuan berita, dan konsep materi pelajaran. Keterampilan berbicara meliputi kemampuan mengungkapkan pikiran, perasaan dan informasi secara lisan mengenai perkenalan, tegur, sapa, pengenalan, benda, fungsi anggota tubuh, kegiatan bertanya. Percakapan, bercerita, deklamasi, memberi tanggapan pendapat/saran, dan diskusi. Keterampilan membaca lancar, membaca puisi, membaca dalam hati, membaca intensif dan sekilas. Keterampilan menulis meliputi kemampuan menulis surat, undangan, dan ringkasan paragraf (Depdiknas,  2006).
Karena bahasa digunakan sebagai alat atau media komunikasi dengan sesama manusia, maka perkembangan kemampuan turut mempengaruhi penyesuaian sosial dan pribadi anak. Dengan dapat berbahasa khususnya berbicara, maka anak dapat mengungkapkan kebutuhan dan keinginannya, mendapat perhatian dari orang lain, menjalin sosial sekaligus penelitian sosial dari orang lain. Dapat menilai diri sendiri berdasarkan masukan atau penilaian orang lain terhadap dirinya, serta mempengaruhi perasaan, pikiran dan perilaku orang lain.
Perkembangan kemampuan atau keterampilan bahasa erat kaitannya dengan perkembangan kemampuan berpikir seseorang. Komunikasi berarti pertukaran pikiran dan perasaan. Agar dapat berkomunikasi dengan baik. Maka anak harus menggunakan bahasa yang bermakna bagi orang yang diajak berkomunikasi.  Sebaliknya, anak pun harus memahami bahasa yang digunakan orang lain. Oleh karena itu diperlukan kemampuan berbahasa yang jelas dan dapat dipahami oleh orang lain. Pikiran dan perasaan yang ingin diungkapkan, diekspresikan dengan menggunakan bahasa sebagai saranay.

B.     Pola Perkembangan Anak
Perkembangan bahasa anak sebagai alat atau media komunikasi telah dimulai sejak bentuk bahasa atau pra bicara yang paling sederhana dan digunakan pada masa HAM dengan “menangis” untuk mengungkapkan perasaan dirinya kepada orang lain. Kemudian berkembang dalam bentuk cloteh atau ocehan dengan cara mengeluarkan bunyi yang belum jelas. Kemudian dilanjutkan dengan menggunakan surat melalui gerakan anggota badan yang berfungsi sebagai pengganti atau pelengkap bicara. Apabila anak sudah siap atau matang untuk belajar berbicara. Sebaiknya tidak lagi menggunakan media pembicara karena akan menghambat perkembangan belajar berbahasa pada anak sekaligus merugikan penyesuaian perkembangan belajar berbahasa pada anak. Sekaligus merugikan penyesuaian pribadi dan sosial anak. Anak dikatakan siap atau matang berbicara aspek belajar bahasa apabila aspek motorik bicara (koordinasi otot bicara) dan aspek motorik bicara (kemampuan berpikir) anak sudah mulai berfungsi dengan baik. Bicara atau kegiatan berbahasa lainnya merupakan keterampilan yang dapat dipelajari
Pola belajar bicara dan berbahasa untuk semua anak pada umumnya sama, sekalipun juga perkembangan berbeda. pola perkembangan berbicara hampir sejalan perkembangan motorik. Sekitar usia satu tahun biasanya anak mulai belajar berjalan sekaligus belajar bicara. Tugas pertama belajar bahasa adalah mengucapkan kata yang didengar dengan cara meniru pengucapan kata orang-orang disekitarnya.
Pada saat anak mulai masuk sekolah, dimana hasrat untuk belajar dan ingin tau besar. Merupakan masa yang paling baik untuk belajar bahasa. Anak selalu bertanya mengenai segala yang dilihat dan ditemui dalam kehidupan sehari-harinya. Pada kata anak biasanya kata-kata yang merupakan kata benda, kata kerja, kata sifat, kata keterangan, kata perangkai atau pengganti dari apa saja yang dijumpai anak dalam kehidupan sehari-hari. Khususnya mengenai warna, waktu, uang, dan kata populer yang digunakan kelompok anak atau teman sebaya. Selanjutnya perkembangan bahasa dengan pembentukan kalimat dimulai dari kata sederhana tetapi belum lengkap menjadi kalimat yang lengkap.
Semakin awal anak dapat berbicara, maka semakin banyak waktu berlatih yang mereka peroleh untuk bicara dan semakin besar pula kemudahan mereka secara dan berbicara dan meningkatkan rasa percaya dirinya. Anak yang terlambat bicara, biasanya juga mengalami hambatan dalam penyesuaian diri dan sosialnya. Ketika anak mulai dapat berbicara, mereka hampir berbicara tidak putus-putusnya. Anak bukan hanya dengan orang lain kadang mereka bicara dengan dirinya sendiri atau berbicara dengan boneka atau alat bermainnya.

C.    Faktor dan Kendala dalam Mempelajari Keterampilan Berbahasa
Walaupun pola perkembangan keterampilan berbahasa anak pada umumnya sama. Tetapi tetap perbedaan individual. Terutama dalam laju perkembangan dan frekuensi atau banyaknya bicara. Serta isi atau topik pembacaan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor berikut.
  1. Kesehatan. Anak yang sehat lebih cepat belajar berbicara dibandingkan dengan anak yang kurang sehat atau sering sakit. Hal ini dikarenakan perkembangan aspek motorik dan aspek berbicaranya lebih baik sehingga lebih siap untuk belajar berbicara. Motivasi didorong oleh keinginan untuk menjadi anggota kelompok sosial dan berkomunikasi dengan anggota kelompok tersebut.
  2. Kecerdasan.  Anak yang memiliki kecerdasan yang lebih tinggi akan belajar berbicara lebih cepat dan memiliki penguasaan bahasa yang lebih baik dari pada anak yang tingkat kecerdasannya lebih rendah. Belajar bahasa erat kaitannya dengan kemampuan berpikir.
  3. Jenis kelamin. Anak perempuan lebih baik dalam belajar bahasa dari pada anak laki-laki, baik dalam pengucapan, kosa kata, dan tingkat keseringan berbahasa dari pada anak laki-laki.

PERKEMBANGAN MORAL

Moral berkenaan dengan perilaku baik atau buruk pada seseorang. Pendidikan SD tidak sekedar bertujuan untuk menjadikan peserta didik menjadi manusia yang cerdas, tetapi juga manusia yang baik pada bagian ini. anda akan mempelajari aspek perkembangan moral yang meliputi pembahasan mengenai pengertian dan manfaat mempelajari perkembangan moral anak. Pola perkembangan moral menurut Kolhberg. Serta faktor dan cara mempelajari  sikap moral khususnya pada peserta didik usia SD/MI. dalam mempelajari perkembangan moral. Anda dibantu dengan media video sehingga pembelajar diharapkan menjadi lebih jelas dan terpahami dengan baik.

A.    Pengertian dan Manfaat
Moral berasal dari kata lain “mores” yang berarti tatacara, kebiasaan, dan adat perilaku sikap moral berarti perilaku yang sesuai dengan kode moral kelompok asal yang dikendalikan oleh konsep moral. Yang dimaksud dengan konsep moral adalah peraturan yang telah menjadi kebiasaan bagi anggota suatu budaya konsep moral inilah yang menentukan pola perilaku yang diharapkan dari seluruh anggota kelompok.
Menurut Piaget (sinolugan, 1997). Hakikat moralitas adalah kecenderungan menerima dan menaati sistem peraturan. Selanjunya. Koheberg (Gunarsa, 1985), mengemukakan bahwa aspek adalah sesuatu yang tidak di bawah dan lahir, tetapi satu yang berkembang dan dapat diperkembangkan/dipelajari. Perkembangan moral merupakan proses internalisasi nilai/norma masyarakat sesuai dengan kematangan dan kemampuan seseorang  dalam menyesuaikan dari terhadap aspek kognitif yaitu pengetahuan tentang baik /buruk atau benar/salah, dan aspek efektif yaitu sikap perilaku moral mengenai bagaimana cara pengetahuan moral itu dipraktekkan.
Disamping perilaku moral ada juga perilaku tak bermoral yaitu perilaku yang tak sesuai dengan harapan sosial karena tidak setuju dengan standar sosial  yang berlaku atau kurang adanya perasaan wajib menyesuaikan diri, sera perilaku moral atau non moral yaitu perilaku yang tidak sesuai dengan harapan sosial karena ketidakacuhan pelanggaran terhadap standar kelompok sosial.
Sikap adalah perilaku yang berisi pendapat tentang sesuatu. Dalam sikap positif tersirat sistem nilai yang dipercayai atau diyakini kebenarannya. Nilai bermuatan pengalaman emosional masa lalu yang mewarnai cita-cita seseorang kelompok atau masyarakat. Moral merupakan wujud abstrak dari nilai-nilai dan tampil secara nyata/konkrit dalam perilaku terbuka yang dapat diamati. Sikap moral muncul alam praktek moral dengan kategori positif/menerima netral atau menolak.
Anak yang bersikap positif atau menerima nilai-nilai moral, diekspresikan dengan nilai dan orang disekitarnya seperti mau menerima, mendukung, peduli, dan berpartisipasi dalam kegiatan kelompok. Sikap moral yang netral diekspresikan dalam perilaku sikap tidak memihak (mendukung atau menolak) terhadap nilai yang ada di masyarakat. Sikap moral yang negatif diekspresikan dalam perilaku menolak yang diwarnai emosi dan sikap negatif seperti kecewa, kesal, marah, benci, bermusuhan, dan menentang terhadap nilai moral yang ada di masyarakat.
Pada sikap dan perilaku moral tersirat nilai-nilai yang dianut berkaitan dengan nilai mengenai sesuatu yang dikatakan baik dan benar, patut, dan seharusnya terjadi sikap netral sebagian besar diteruskan dari generasi ke generasi melalui proses pendidikan seumur hidup. ada nilai-nilai yang perlu dipertahankan ada yang diasimilasikan ke arah kemajuan atau perubahan progresif, tetapi ada juga yang berubah atau bergeser karena berbagai faktor yang mempengaruhinya sebagai guru. Anda perlu memahami perkembangan sikap moral agar dapat membantu peserta didik mengembangkan sikap moral yang dikehendaki, mendidik, menjadi anak yang baik, dan bersikap moral secara baik dan benar.
B.     Pola  Perkembangan Moral
Dalam mempelajari perkembangan sikap moral peserta didik usia sekolah Piaget (Sinolungan, 1997) mengemukakan tiga tahap perkembangan moral sesuai dengan kajiannya pada aturan dalam permainan anak.
1.      Fase absolut, di mana anak menghayati peraturan sebagai sesuatu hal yang mutlak, tidak dapat diubah, karena berasal dari otoritas yang dihormati (orang tua, guru, anak yang lebih berkuasa)
2.      Fase realistis, di mana anak menyesuaikan diri untuk menghindari penolakan orang lain. Dalam permainan, anak menaati aturan yang disepakati bersama sebagai suatukenyataan/realitas yang dapat diubah asal disetujui bersama.
3.      Fase subjektif, dimana anak memperhatikan motif atau kesenjangan dalam penilaian perilaku, anak menaati aturan agar terhindar dari hukuman, kemudian memahami aturan dan gembira mengembangkan serta menerapkannya.

Selain teori perkembangan moral, dalam mempelajari pola perkembangan moral yang berkaitan dengan ketaatan akan suatu aturan yang berlaku universal. Perlu dibahas mengenai disiplin. Disiplin berasal dari kata “diseiple” yang berarti seorang yang belajar dari/atau secara sukarela mengikuti seorang pemimpin. Disiplin diperlukan untuk membentuk perilaku yang sesuai dengan aturan atau peran yang ditetapkan dalam kelompok budaya tempat orang tersebut menjalani kehidupannya ditetapkan dalam kelompok budaya tempat orang tersebut menjalani kehidupannya. Secara permisif lissezfaire melalui kebebasan yang diberikan kepada anak tanpa adanya hukuman atau secara demokratis melalui penjelasan, diskusi dan penalaran mengenai aturan yang berlaku:
Unsur yang berkaitan dengan disiplin adalah sebagai berikut:
1.      Peraturan sebagai pola yang ditetapkan untuk perilaku di mana anak hidup, mempunyai nilai pendidikan tentang arah yang harus diikuti dan ditaati anak, dan juga membantu mengekang perilaku yang tidak diinginkan.
2.      Hukuman diberlakukan apabila anak melakukan kesalahan ataupun bertindak yang tidak sesuai dengan nilai/norma yang berlaku dalam masyarakat. Hukuman dapat menghalangi anak untuk tidak mengulangi perbuatan yang tidak diinginkan, mendidik anak untuk belajar dari pengalaman, dan memotivasi anak untuk menghindari perilaku yang tidak diterima oleh masyarakat.
3.      Penghargaan diberikan apabila anak melakukan sesuatu yang sesuai dengan norma/nilai yang berlaku, mendidik dan memotivasi anak untuk mengulangi perilaku yang baik dan benar sesuai harapan masyarakat.
4.      Konsistensi atau keinginan untuk melaksanakan aturan dan disiplin sehingga tidak membangunkan anak dalam mempelajari sesuatu yang benar/salah atau baik/buruk. Disiplin bermanfaat apabila ada pengaruh disiplin terhadap perilaku menimbulkan kepekaan akan sikap perilaku yang baik, benar, dan adil, serta mempengaruhi kepribadian anak di mana sikap perilaku disiplin merupakan bagian yang terinternalisasi pada anak secara keseluruhan.
  
C.    Faktor Dari Cara Mempelajari Sikap Moral
Sejumlah faktor penting yang mempengaruhi perkembangan moral anak (Hurlock. 1990).
1.      Peran hati nurani atau kemampuan untuk mengetahui apa yang benar dan salah apabila anak dihadapkan pada situasi yang memerlukan pengambilan keputusan atas tindakan yang harus dilakukan.
2.      Peran rasa bersalah dan rasa malu apabila bersikap dan berperilaku tidak seperti yang diharapkan dan melanggar aturan
3.      Peran interaksi sosial dalam memberi kesempatan pada anak untuk mempelajari dan menerapkan standar perilaku yang disetujui dalam masyarakat. Keluarga sekolah, dan dalam pergaulan dengan orang lain.


Sikap dan perilaku moral dapat dipelajari dengan cara berikut.
1.      Belajar melalui coba-ralat (trial and error). Anak mencoba belajar mengetahui apakah perilakunya sudah memenuhi standar sosial dan persetujuan sosial atau belum. Bila belum, maka akan dapat mencoba lagi sampai suatu ketika secara kebetulan dapat berperilaku sesuai dengan yang diharapkan.
2.      Pendidikan langsung yang dilakukan dengan cara anak belajar memberi reaksi tertentu secara tepat dalam situasi tertentu, serta dilakukan dengan cara mematuhi peraturan yang berlaku dalam keluarga, sekolah, maupun masyarakat sekitar.
3.      Identifikasi dengan cara yang dikaguminya. Cara ini biasanya dilakukan secara tidak sadar dan tanpa tekanan orang lain. Yang penting ada teladan dari orang yang diidentifikasi untuk ditiru perilakunya. 

Pendidikan saat ini umumnya mempersiapkan peserta didik memiliki banyak pengetahuan, tetapi tidak tahu cara memecahkan masalah tertentu yang dihadapi dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari. Pendidikan lebih mempersiapkan peserta didik untuk menjadi anak yang pandai dan cerdas, tetapi kurang mempersiapkan peserta didik untuk menjadi anak yang baik. Masalah berkenaan dengan baik dan buruk menjadi kajian bidang moral. Demikian juga dalam mengembangkan aspek moral peserta didik berarti bagaimana cara membantu peserta didik untuk menjadi anak yang baik yang mengetahui dan berperilaku atau bersikap berbuat yang baik dan benar. Sikap dan perilaku moral dapat dikembangkan melalui pendidikan nilai/norma yang dilakukan secara terintegrasi dalam pelajaran maupun kegiatan yang dilakukan anak di keluarga dan sekolah. Pendidikan baik hanya mempersiapkan anak menjadi manusia cerdas, tetapi menjadi manusia yang baik berbudi luhur, dan berguna bagi orang lain.

PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN

  Kepribadian merupakan suatu kesatuan psikofisik yang bersifat dinamis dan menjadi karakteristik yang melekat pada seseorang yang membedakannya dengan orang lain.

A.    Pengertian Kepribadian
Istilah kepribadian atau “personality” berasal dari kata latin “Persona” yang berarti topeng. Pada bangsa Yunani Kuno. Para actor memakai topeng untuk menyembunyikan identitas mereka dan memungkinkan mereka memernkan tokoh dalam drama. Demikian juga pada bangsa Roma. “persona” bagaimana seseorang tampak pada orang lain.
Dalam kehidupan sehari-hari terdapat beberapa penggunaan istilah kepribadian, diantaranya, kepribadian sebagai suatu yang dimiliki atau tidak dimiliki seseorang. Kepribadian merupakan pengaruh seseorang terhadap orang lain dan yang menarik serta yang membosankan; kepribadian semata-mata hanya jasmaniah atau semata-mata hasil dari kebudayaan dan kepribadian merupakan jumlah sifat seseorang.
Kepribadian bersifat dinamis. Tidak statis, melainkan berkembang secara seksama sehingga manusia senantiasa berada dalam kondisi perubahan dan pengembangan kepribadian meliputi aspek fisik dan praktis yang saling melengkapi.
Tipologi yang dibuat kretehmer dan Sheldon juga bersifat jasmaniah, yakni bentuk tubuh.  Mereka membagi tipe kepribadian atas tiga macam.
1.      Tipe asthenicus atau ectomorphic. Pada orang-orang yang bertumbuh tinggi kurus, memiliki sifat dan kemampuan berpikir abstrak dan kritis, tetapi suka melamun dan sensitif
2.      Tipe pycknieas atau emlomorph pada orang yang bertumbuh gemuk pendek, memiliki sifat periang, suka humor, populer dan mempunyai hubungan sosial luas, banyak teman, dan suka makan .
3.      Tipe athleticus atau mesomorphic. Pada orang yang bertumbuh sedang/atletis, memiliki sifat senang pada pekerjaan yang membutuhkan kekuatan fisik, pemberani, agresif, mudah menyesuaikan diri.

B.     Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Kepribadian           
Studi mengenai perkembangan pola kepribadian mengungkapkan bahwa ada tiga faktor yang menentukan perkembangan kepribadian seorang termasuk peserta didik usia SD/MI.
1.      Faktor bawaan, termasuk sifat-sifat yang diturunkan secara genetik dari orang tua kepada anaknya, misalnya sifat sabar anak dikarenakan orang tuanya juga memiliki sifat sabar. Demikian juga wawasan sosial anak dipengaruhi oleh tingkat kecerdasan.
2.      Pengalaman awal, dalam lingkungan keluarga anak masih kecil, pengalaman itu membentuk konsep diri primer yang sangat mempengaruhi perkembangan kepribadian anak dalam mengadakan penyesuaian diri dan sosial pada perkembangan kepribadian selanjutnya.
3.      Pengalaman kehidupan selanjutnya, dapat memperkuat konsep diri dan dasar kepribadian yang sudah ada, atau karena pengalaman yang sangat kuat sehingga mengubah konsep diri dan sifat-sifat yang sudah terbentuk pada diri seseorang.      


PENUTUP

A.    Kesimpulan
Mengembangkan kemampuan intelek atau kognitif merupakan bagian tujuan pendidikan di Indonesia untuk mencerdaskan bangsa konsep perkembangan intelek menjadi masukan penting mengembangkan sistem pendidikan dan pengajaran. Pada pembagian ini. Anda akan mempelajari aspek perkembangan intelek yang  meliputi pembahasan mengenai pengertian dan  klasifikasi intelegensi, struktur pengetahuan, dan tahap perkembangan kognitif, serta faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan intelek peserta didik usia SD/MI

B.     Saran
Dengan selesainya makalah ini mudah-mudahan peserta didik mendapatkan tambahan wawasan mengenai perkembangan-perkembangan, baik itu moral bahasa intelek dan kepribadiannya dan dapat juga dijadikan pegangan untuk kedepannya.

0 comments :

© 2011-2014 TUGAS-TUGAS KAMPUS. Designed by Bloggertheme9. Powered by Blogger.