Kamis, 11 April 2013

makalah tentang etika



makalah etika
 
BAB I
PEMBAHASAN

A.    Latar Belakang
Di zaman modern ini, masalah etika di Indonesia mulai mengalami penurunan. Sebagian besar masyarakat mulai mengabaikan persoalan erikanya. Terutama etika dalam pergaulan. Hal ini terjadi di akibatkan masuknya ajaran-ajaran barat yang akhirnya mengikis ada budaya masyarakat Indonesia secara perlahan-perlahan.
Etika adalah sebuah refleksi kritis dan rasional mengenai nilai dan norma moral yang menentukan dan terwujud. Nilai yang terkandung dalam ajaran berbentuk petuah-petuah, nasihat, wejangan peraturan, perintah dan semacamnya. Pada dasarnya memberi kita orientasi bagaimana dan kemana kita harus melangkah dalam hidup ini.
   
B.     Rumusan Masalah
  1. Defenisi etika
  2. Pembagian etika
  3. Sistematika etika
  4. Pendapat dan aliran dalam etika


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Etika
Etika adalah sebuah refleksi kritis dan moral yang menentukan dan terwujud dalam sikp dan dola perilaku hidup manusia, baik secara pribadi maupun kelompok.
Menurut Magnis Suseno, etika adalah sebuah ilmu dan bukan suatu ajaran.
Moralitas adalah sistem nilai tentang bagaimana kita harus hidup secara baik sebagai manusia. Sistem nilai ini terkandung dalam ajaran berbentuk petuah-petuah, nasihat, wejangan peraturan, perintah dan  semacamnya yang bersifat turun temurun.
Jadi moralitas adalah petunjuk konkrit yang siap pakai tentang bagaimana kita harus hidup sedangkan etika adalah perwujudan secara kritis dan rasional ajaran moral yang siap pakai itu.
Pada dasarnya keduanya memberi kita orientasi bagaimana dan kemana kita harus melangkah dalam hidup ini. Tetapi bedanya moralitas langsung mengatakan “inilah caranya harus melangkah”, Sedangkan  etika justru mempersoalkan “apakah harus melangkah dengan cara ini dan mengapa harus dengan cara ini”

B.     Pembagian Etika
Dalam kaitannya dengan nilai dan norma, kita menemukan 2 macam etika:
v  Etika deskriptif, berbicara mengenai fakta apa adanya, yakni mengenai nilai dan pola prilaku manusia sebagai suatu fakta yang terkait dengan situasi dan realitas konkrit yang membudaya
v  Etika normatif, berbicara mengenai norma-norma yang menentukan tingkah laku manusia, serta memberi penilaian dan himbauan kepada manusia untuk bertindak sebagaimana seharusnya berdasarkan norma-norma.
Perbedaannya adalah etika deskriptif memberi fakta sebagai dasar untuk mengambil keputusan tentang perilaku dan sikap yang   mau diambil sedangkan etika normatif memberi penilaian sekaligus memberi norma sebagai dasar dan kerangka tindakan yang diputuskan.
Secara umum norma dapat dibedakan menjadi 2 yaitu:
v  Norma khusus, contohnya bermain bola
v  Norma umum, terdiri dari:
Ø  Norma sopan santun, contohnya cara bertemu, makan, duduk dan sebagainya
Ø  Norma hukum, lebih tegas dan pasti karena dijamin oleh hukum terhadap para penggarnya
Ø  Norma moral, yakni aturan mengenai sikap dan perilaku manusia sebagai manusia. Penilaiannya bukan berdasarkan profesi tetapi manusia yang menjalankan profesi tertentu.

C.    Sistematika Etika
Etika secara umum dapat dibagi menjadi 2 kategori:
v  Etika umum, berbicara mengenai kondisi-kondisi dasar bagaimana manusia bertindak secara etis, mengambil keputusan secara etis serta tolak ukur dalam menilai baik buruknya suatu tindakan.
v  Etika khusus, merupakan penerapan prinsip-prinsip moral dasar dalam bidang kehidupan yang khusus. Penerapan seperti “bagaiman saya mengambil keputusan dan bertindak dalam bidang kehidupan dan kegiatan khusus yang lakukan yang didasari olah cara, teori dan prinsip moral dasar”
Ø  Etika individual, menyangkut kewajiban dan sikap manusia terhadap dirinya sendiri
Ø  Etika sosial, berbicara mengenai kewajiban, sikap dan pola perilaku manusia sebagai anggota manusia  

D.    Pendapat dan Aliran dalam Etika

  1. Etika Deontology
Deontolgi berarti kewajiban (duty) maksudnya bahwa manusia ditekankan untuk berbuat baik. Menurut etika ini suatu tindakan dikatakan baik bukan nilai berdasarkan akibat atau tujuan baik dari tindakan itu, melainkan berdasarkan tindakan itu sendiri sebagai baik pada dirinya sendiri.
Menurut Immanuel Kant (1764 – 1804), kemauan baik harus dinilai baik pada dirinya sendiri terlepas dari apa pun juga. Dalam menilai seluruh tindakan kita, kemauan baik harus selalu dinilai paling pertama dan menjadi kondisi dari segalanya.
Ada 2 pokok yang ditekankan oleh Kant:
v  Tidak ada di dunia ini yang dianggap baik tanpa kualifikasi kecuali kemauan baik.
v  Tindakan yang baik adalah tindakan yang dijalankan demi kewajiban.
  1. Etika Teleologis
Teori ini mengukur baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan yang mau dicapai atau berdasarkan akibat yang ditimbulkan oleh tindakan tersebut.
            Ada 2 aliran etika teleologis
v  Egoism
Menurut aliran yang dapat dinilai baik itu adalah sesuatu yang memberi mandaat bagi kepentingan diri, kepada vakunya. Sebab itu orang seperti ini disebut egoisme  
v  Utilitarianisme
Paham ini menilai baik dan tidaknya, susila atau tidak susilanya sesuatu, ditinjau dari segi kegunaan atau faedah yang didatangkannya.
Dikenalkan ada 2 jenis yaitu:
Ø  Utilisme Individual
Paham ini menganggap seseorang boleh bersikap sesuai dengan situasi yang menguntungkan dirinya. Jadi boleh berpura-pura hormat, bersikap menjilat asalkan perbuatan membwa keuntungan bagi individu 
Ø  Utilisme Sosial
Paham ini beranggapan demi  untuk kepentingan orang banyak tidak ada berdusta, tidak apa bermulut manis. Dipakai dalam kelangkaan politis atau diplomatik

Egoism menilai baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan dan akibat dari tindakan bagi diri sendiri, sedangkan utilisme menilai baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan dan akibat dari tindakan bagi banyak orang

  1. Universitas
Berarti umum. Universalisme sebagai ajaran etika berarti sesuatu dapat dinilai baik bila dapat memberikan kebaikan kepada orang banyak. Universalisem berarti memikirkan kepentingan umum dimana kepentingan individu tidak terpadat di dalamnya.

  1. Intuitionisme
Berasal dari kata intuition: ilham, bisikan kalbu. Paham ini berpendapat bahwa baik buruknya atau susah tidaknya dapat merupakan suatu pertimbangan rasa yang timbul dari bisikan kalbu. Bukan merupakan pemikiran secara analisis tapi dengan jalan perenungan dan semadi.
Menurut psikologi dan sosiologi, ada 2 sumber kekuatan yang mempengaruhi perbuatan dan kelakuan seseorang:
Ø  Ekstern  : pengaruh pergaulan, ajaran/pendidikan, kebudayaan
Ø  Intern  : pengaruh cara berpikir, karsa/kemauan, insting, dan kejiwaan.
     
  1. Hedonism
Berasal dari kiat hedone : pleasure : kesenangan. Prinsipnya bahwa sesuatu dianggap baik sesuai dengan kesenangan yang didatangkan. Jadi semua yang mendatangkan kesusahan dianggap tidak baik.
Pengatnut ajaran ini biasanya boros dan memburu kesenangan tanpa melihat halal-haramnya   

  1. Eudemonisme
Berasal dari kata eudaemonisme : happy : bahagia, dengan menitik beratkan pada rasa.
            Prinsip ajaran menilai baik buruk sesuatu berdasarkan ada tidaknya kebahagiaan yang didatangkan. Walau menempuh jalan yang susah tapi didapatkan perasaan bahagia maka cara ini dianggap baik oleh aliran ini.

  1. Altruisem
Berasal dari kata alteri : others : prinsipnya mengutamakan kepentingan orang sebagai lawan kepentingan diri sendiri.

  1. Tradisional
Berasal dari kata tradisional : kebiasaan, adat-istiadat. Menurut paham ini susah tidaknya dinilai dari sebagai kebiasaan atau adat istiadat  yang berlaku. Apa yang memperkukuh tradisi dianggap baik dan yang menentang dianggap tidak baik.



BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Etika adalah sebuah refleksi kritis dan rasional mengenai nilai dan norma moral yang menentukan dan terwujud dalam sikap dan pola perilaku hidup manusia, baik secara pribadi maupun kelompok.
Dalam kaitannya dengan nilai dan norma, kita menemukan 2 macam etika, yaitu etika deskriptif dan etika normatif. Adapun sistematika etika juga di bagi menjadi 2 kategori, yaitu etika umum dan etika khusus.
Sedangkan pendapat dan aliran dalam etika terbagi atas 8 bagian, yaitu:
  1. Etika edontologi
  2. Etika teleologis
  3. Etika universalisme
  4. Etika intunisionisme
  5. Etika hedonism
  6. Etika eudemonisme
  7. Etika altruisme
  8. Etika tradisionalisme

B.     Saran
Dalam pergaulan sehari-hari di kita dituntut memiliki etika yang baik agar dapat hidup berdampingan secara damai dan harmonis dengan orang lain yang memiliki adat, budaya, suku, ras, agama dan keyakinan yang berbeda dengan kita.

0 komentar:

Poskan Komentar