Sabtu, 13 April 2013

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN



MODEL-MODEL PEMBELAJARAN


1.      Makna Pembelajaran
Untuk mengatasi berbagai problematika dalam melaksanakan pembelajaran, tertentu diperlukan model-model mengajar yang dipandang mampu mengatasi kesulitan guru melaksanakan tugas mengajar dan juga kesulitan belajar peserta didik. Model diartikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan kegiatan. Model dapat dipahami sebagai:
Ø  Suatu tipe atau desain;
Ø  Suatu deskripsi atau analogi dapat dengan langsung diamati;
Ø  Suatu sistem asumsi-asumsi data dan inferensi-inferensi yang dipakai menggambarkan secara matematis suatu objek atau peristiwa;
Ø  Suatu desain yang sederhana dari suatu sistem kerja, suatu terjemahan yang disederhanakan;
Ø  Suatu deskripsi dari suatu sistem yang mungkin atau imajiner;
Ø  Penyajian yang diperkecil agar dapat dijelaskan dan menunjukkan sifat bentuk aslinya dapat menjelaskan dan menunjukkan sifat bentuk aslinya (Komaruddin, 2001:152)

Model mengajar menurut Joyce dan Weil (2003:13) adalah suatu deskripsi dari lingkungan belajar yang menggambarkan perencanaan kurikulum, kursus-kursus, desain unit-unit pelajaran dan pembelajaran, media, dan bantuan belajar melalui program komputer. Sebab model-model ini menyediakan alat-alat belajar yang diperlukan bagi siswa. Hakikat mengajar (teaching) menurut Joyce dan Weil adalah membantu para pelajar memperoleh informasi, ide, keterampilan, nilai, cara berfikir, sarana untuk mengekspresikan dirinya dan belajar bagaimana cara belajar.


  1. Model Pemrosesan Informasi (Informasi Processing Models)
Model ini menjelaskan bagaimana cara memberi respon yang datang dari lingkungan dengan cara mengkoordinasikan data, memformulasikan masalah, membangun konsep dan rencana pemecahan masalah serta penggunaan simbol-simbol verbal dan non verbal. Model ini memberikan kepada siswa sejumlah konsep, pengetesan hipotesis, dan mengajar proses demokrasi secara langsung, jadi pendidikan harus diorganisasikan dengan cara melakukan penelitian bersama (coperatif inquiry) terhadap masalah-masalah sosial dan masalah-masalah akademis.
  
  1. Model Sistem Perilaku dalam Pembelajaran (Behavioral Model of Teaching)
 Model ini dibangun atas dasar kerangka teori perubahan perilaku, melalui teori ini dibimbing untuk dapat memecahkan masalah belajar melalui penguraian perilaku ke dalam jumlah yang kecil dan berurutan.

2.      Model Pembelajaran Konstruktivisme
Rapih E Martin (1994) mengusulkan suatu model pembelajaran dengan pendekatan konstruktivis yang dinamakan sebagai model 4E. model ini memberikan tekanan pada aktivitas siswa dalam menyelidiki dan mengkonstruksikan pengetahuan secara mandiri. Model ini berupa suatu siklus yang dapat digunakan sebagai berikut:
Ø  Menyelidiki atau mengkaji
Ø  Menjelaskan
Ø  Memperluas
Ø  Evaluasi
Selanjutnya untuk mempelajari dan mengkonstruksikan pengertiannya terhadap konsep yang lebih besar, kegiatan kembali dimulai dari menyelidiki (explore) dan seterusnya
3.      Pendekatan Inquiry/Discovery dalam Model Mengajar
Pendekatan ini bertolak dari pandangan bahwa siswa sebagai subjek dan objek dalam belajar, mempunyai kemampuan dasar untuk berkembang secara optimal sesuai kemampuan yang dimilikinya. Proses pembelajaran melakukan kegiatan belajar. Peranan guru lebih banyak menetapkan diri sebagai pembimbing atau fasilitator belajar. Dengan demikian siswa lebih banyak melakukan kegiatan sendiri atau dalam bentuk kelompok memecahkan permasalahan dengan bimbingan guru. Pendekatan kelompok merupakan pendekatan mengajar yang berusaha meletakkan dasar dan mengembangkan cara berfikir ilmiah, pendekatan ini menempatkan siswa lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kreatifitas dalam memecahkan masalah. Siswa betul-betul ditempatkan sebagai subyek yang belajar. Peranan guru dalam pendekatan inquiry adalah pembimbing belajar dan fasilitator belajar. Tugas utama guru adalah memilih masalah yang perlu dilontarkan oleh siswa sendiri.
Pendekatan inquiry dalam mengajar termasuk pendekatan modern, yang sangat didambakan untuk dilaksanakan di setiap sekolah. Adanya tuduhan bahwa sekolah menciptakan kultur bisu, tidak akan terjadi apabila pendekatan ini digunakan. Pendekatan inquiry dapat dilaksanakan apabila dipenuhi syarat-syarat berikut:
  1. Guru harus terampil memilih persoalan yang relevan untuk diajukan kepada kelas (persoalan bersumber dari bahan pelajaran yang menantang siswa/problematik) dan sesuai dengan daya nalar siswa;
  2. Guru harus terampil menumbuhkan motivasi belajar siswa dan menciptakan situasi belajar yang menyenangkan;
  3. Adanya fasilitas dan sumber belajar yang cukup;
  4. Adanya kebebasan siswa untuk berpendapat, berkarya, berdiskusi;
  5. Partisipasi setiap siswa dalam kegiatan belajar;
  6. Guru tidak banyak campur tangan dan intervensi terhadap kegiatan siswa

Adanya lima tahapan yang ditempuh dalam melaksanakan pendekatan inquiry/discovery yakni:
Ø  Perumusan masalah untuk dipecahkan siswa;
Ø  Menetapkan jawaban sementara atau lebih dikenal dengan istilah hipotesis;
Ø  Siswa mencari informasi, data, fakta, yang diperlukan untuk menjawab permasalahan/hipotesis;
Ø  Menarik kesimpulan jawaban atau generalisasi
Ø  Mengaplikasikan kesimpulan / generalisasi dalam situasi baru.

  Metode mengajar yang biasa digunakan guru dalam pendekatan ini antara lain metode diskusi dan pemberian tugas, diskusi untuk memecahkan permasalahan dilakukan oleh sekelompok kecil siswa antara tiga sampai lima orang dengan arahan dan bimbingan.

4.      Model Mengajar Menggunakan Berbagai Metode 
  1. Model Mengajar Menggunakan Metode Ceramah
Ceramah adalah salah satu bentuk interaksi melalui penerangan, penuturan lisan dari guru kepada peserta didik. Dalam pelaksanaan ceramah untuk menjelaskan uraiannya, guru dapat menggunakan alat-alat bantu seperti gambar, dan audio visual lainnya. Ceramah adalah penuturan lisan dari guru kepada peserta didik, ceramah juga sebagai kegiatan memberikan informasi dengan kata-kata sering mengaburkan dan kadang-kadang ditafsirkan salah. Kadang-kadang terjadi pula orang baru saja mengikuti ceramah, jika ditanya tidak tahu apa-apa. Kemungkinan terjadinya hal ini adalah karena khalayaknya bukan pendengar yang baik. Karena itu, alat utama dalam metode ceramah ini berhubungan dengan siswa menggunakan bahasa lisan.

  1. Model Mengajar Menggunakan Model Tanya-Jawab (Respons)
Pendekatan dalam mengajar umumnya menempuh dua macam cara, yaitu memberikan stimulasi-stimulasi dan mengadakan pengarahan aktivitas  belajar. Banyak yang dapat dibicarakan mengenai teknik belajar yang baik, dapat merangsang peserta didik untuk berpikir. Melalui pertanyaan peserta didik didorong untuk mencari dan menemukan jawaban yang tepat dan memuaskan. Dalam mencari dan menemukan itu ia berfikir menghubung-hubungkan bagian pengetahuan yang jika jawaban yang diminta belum siap dimilikinya, maka hal ini mendorong untuk menemukanya. Ia akan menjelajahi data jawaban melalui berbagai cara yang tepat
Proses yang dilakukan adalah dengan membaca, meneliti dan diskusi membaca informasi sebagai sumber adalah salah satu teknik untuk mengemukakan jawaban. Penelitian di laboratorium, di lapangan, diluvium,  
  1.  
5.       


0 komentar:

Poskan Komentar