Kamis, 11 April 2013

MAKALAH PENGARUH PERILAKU MENYIMPANG SISWA TERHADAP PRESTASI BELAJARNYA



PENGARUH PERILAKU MENYIMPANG SISWA
TERHADAP PRESTASI BELAJARNYA


I.         PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Hidup manusia dalam perkembangan dipengaruhi oleh hal-hal yang berasal dari dalam diri sendiri, dan faktor-faktor yang berasal dari luar diri pribadinya. Diri pribadi manusia umumnya terdiri dari tiga aspek yaitu, rasionya atau aspek kogngit, emosinya atau aspek afektif, dan yang ketiga merupakan hasil penyerasian antara aspek afektif atau yang disebut aspek konatif atau kehenda manusia (Soekanto, 2004)
Perilaku menyimpang yang melanda masyarakat, termasuk juga kalangan siswa tau pelajar umumnya dipengaruhi oleh faktor-faktor di atas. Pada dasarnya perilaku menyimpang disebabkan oleh proses sosialisasi yang tidak sempurna atau tidak berhasil. Proses sosialisasi ini tidak berhasil karena seseorang mengalami kesulitan dalam komunikasi ketiak bersosialisasi. Artinya, individu tersebut tidak mampu mendalami norma-norma masyarakat yang berlaku, adanya ketidakpercayaan diri dari individu tersebut, dan karena ia tidak memiliki kemampuan untuk bersosialisasi.
Seseorang yang tidak berhasil dalam hal proses sosialisasi umumnya tidak memiliki perasaan bersalah atas penyimpangan yang dilakukannya. Hal ini karena mengapa bahwa keluarga merupakan lingkungan awal tempat penanaman norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Apabila keluarga tidak berhasil menanamkan norma-norma  tersebut pada anggotanya, maka penyimpanan dapat terjadi (Umasih, 2007).
Terbentuknya perilaku menyimpang juga merupakan hasil sosialisasi nilai sub kebudayaan yang menyimpang yang dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti faktor ekonomi. Individu, termasuk siswa yang tidak mampu mencukupi kebutuhannya cenderung untuk melakukan penyimpangan. Misalnya seorang pencopet, ketika ditanya alasannya mengapa ia mencopet, maka jawabannya adalah karena ia tidak dapat mencukupi kebutuhan hidupnya, dalam hal ini makanan, pakaian, dan kebutuhan sekolah.
Selain faktor ekonomi, faktor agama juga dapat mempengaruhi pembentukan penyimpangan, yaitu ketika kehidupan individu tidak didasari oleh agama yang kuat sehingga kehidupannya menjadi tanpa arah dan tujuan. Tidak jarang organisasi kemasyarakatan menjadi faktor yang mempengaruhi pembentukan penyimpangan dalam masyarakat, dimana ketiak seseorang hendak menyalurkan potensi dan minatnya dalam organisasi tersebut, ia justru menyalahgunakan wewenangnya dan melakukan korupsi di organisasi atau lembaga tempatnya bertugas. Dari ketiga faktor yang dikemukakan di atas hanya faktor organisasi kemasyarakatan yang tidak langsung dapat mempengaruhi siswa dalam melakukan perilaku menyimpang.
Perilaku menyimpang siswa pada dasarnya lahir dari ekspresi sikap kenakalan yang muncul dari kalangannya. Secara fonomenologis gejala kenakalan timbul dalam masa pubertas, di mana jiwa dalam keadaan labil, sehingga mudah terseret oleh lingkungan. Seseorang anak tidak tiba-tiba menjadi nakal, tetapi menjadi nakal karena beberapa saat setelah dibentuk oleh lingkungan yang terdiri dari keluarga, sekolah, dan masyarakat (Guawan, 2000)
Seseorang siswa yang hidup dalam keluarga yang tidak harmonis cenderung akan mempunyai perilaku yang kurang baik dan menyimpang dari norma dan nilai yang berlaku dalam masyarakat. Misalnya seseorang anak yang sering melihat orang tuanya bertengkar, ia bisa melarikan dirinya pada penggunaan obat-obatan atau narkoba karena ia tidak tahan melihat pertengkaran orang tuanya. Begitu juga halnya apabila seseorang siswa tidak mampu menerima aspek-aspek pendidikan yang ia terima di sekolah, maka tindakan-tindakan yang menyimpang dari tujuan pendidikan yang sebenarnya dapat muncul.
Pergaulan individu siswa yang berhubungan dengan teman-temannya yang diperoleh dari lingkungan masyarakat juga akan membentuk perilakunya. Jika pergaulan dengan temannya itu bersifat positif, perilaku pun akan bersifat positif, sebaliknya jika pergaulannya bersifat negatif, maka perilakunya pun akan membawa pengaruh negatif pula.
Lahirnya perilaku menyimpang secara umum disebabkan oleh dua faktor yaitu, faktor internal atau faktor yang ada dalam diri individu setiap orang atau siswa, dan faktor eksternal atau faktor yang ada di luar individu siswa. Faktor-faktor ini secara langsung akan mempengaruhi prestasi belajar siswa. Penyesuaian diri adalah proses bagaimana individu mencapai keseimbangan diri dalam memenuhi kebutuhan sesuai dengan lingkungan. Kegagalan dalam melakukan penyesuaian secara positif dapat mengakibatkan individu melakukan penyesuaian diri yang salah sehingga seorang individu / peserta didik dapat menunjukkan tingkah laku yang bersifat menyerang dan pada akhirnya menunjukkan perilaku yang menyimpang.                    
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan dari latar belakang di atas maka rumusan masalah dari penulisan artikel ini bagaimana pengaruh perilaku menyimpang siswa terhadap prestasi belajarnya.

C.    Tujuan
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas maka tujuan yang ingin dicapai penulisan artikel ini adalah untuk mengetahui pengaruh perilaku menyimpang siswa terhadap prestasi belajarnya.

II.      PEMBAHASAN

A.    Teori Mengenai Perilaku Menyimpang
Ada beberapa teori yang berkaitan dengan perilaku menyimpang, antara lain, yaitu:
1.      Teori differential Association 
Menurut pandangan teori ini perilaku menyimpang bersumber pada pergaulan yang berbeda. Perilaku menyimpang terjadi melalui proses ahli budaya, di mana seseorang mempelajari suatu budaya menyimpang seperti perilaku homoseksual, hubungan seks pernikahan, dan penyalahgunaan narkoba. Hal inilah yang biasanya terjadi pada kehidupan siswa tanpa memandang jenjang pendidikannya. Pada saat ini perilaku menyimpang sudah biasa dilakukan oleh murid Sekolah Dasar, karena adanya proses alih budaya.   

2.      Teori Labeling
Menurut teori ini, seseorang menjadi menyimpang karena proses Lableing, pemberian julukan, cap, etiket, dan merek yang diberikan oleh masyarakat kepada seseorang.
3.      Teori Merton
Menurut Merton perilaku menyimpang bersumber dari struktur sosial yang bisa menghasilkan perilaku konformis, di mana perilaku menyimpang terjadi sebagai akibat bentuk adaptasi terhadap situasi tertentu. 
4.      Teori fungsi Durkheim
Menurut Durkheim, kesadaran moral semua anggota masyarakat tidak mungkin terjadi, karena setiap individu itu berbeda tergantung faktor keturunannya, lingkungan fisiknya, dan lingkungan sosialnya. Dengan demikian kejahatan itu selalu ada, dan menurut Durkheim kejadian itu perlu, akan moralitas dan hukum berkembang secara formal. 
5.      Teori Konflik
Teori ini dianjurkan oleh Karl Marx, ia mengemukakan bahwa kejahatan erat kaitannya dengan perkembangan kapitalisme. Menurut teori ini, apa yang merupakan perilaku menyimpang hanya dalam pandangan kelas yang berkuasa untuk melindungi kepentingan mereka. Oleh sebab itu orang yang melakukan kejahatan dan terkena hukuman pidana, umumnya dari kalangan rakyat miskin (Umasih, 2007)

B.     Pengertian Perilaku Menyimpang
Perilaku menyimpang merupakan sisi negatif dari bentuk perilaku positif, dalam hal ini merupakan bentuk perilaku yang dilakukan oleh seseorang yang tidak sesuai dengan norma atau nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat. Lawang (1986:43) memberikan pengertian bahwa perilaku menyimpang adalah suatu tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dalam suatu sistem sosial.
Perilaku menyimpang sebagai perilaku yang tidak berhasil menyesuaikan diri dengan kehendak masyarakat.
Dengan demikian perilaku menyimpang pada umumnya dikaitkan dengan hal-hal yang negatif, yang tidak baik, yang merugikan diri sendiri, dan masyarakat yang ada di sekitar individu yang melakukan perilaku menyimpang tersebut.  
C.    Jenis-Jenis Perilaku Menyimpang
Secara umum perilaku yang terjadi dalam masyarakat dan kalangan siswa terdiri dari:
1.      Tawuran atau Perkelahian Antar Pelajar  Sebagai Salah Satu Perilaku Menyimpang Siswa
Biasanya anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) cenderung tidak dapat mengendalikan emosinya sehingga timbul perilaku yang menyimpang dari norma yang berlaku dalam masyarakat. Perilaku atau tawuran antar pelajar merupakan perilaku menyimpang karena tidak sesuai dengan norma dan nilai dalam masyarakat, umumnya terjadi di kota-kota besar akibat kompleksnya kehidupan kota, sumber permasalahannya biasanya hanya masalah sepele, seperti saling mengejek di jalan.
2.      Penyalahgunaan Narkotika, Obat-Obatan Terlarang, dan Minuman Keras
Penyalahgunaan narkotika merupakan penggunaan narkotika tanpa izin dengan tujuan hanya untuk memperoleh kenikmatan. Penggunaan narkotika yang tidak sesuai dengan norma dan tujuannya tidak untuk kepentingan yang positif, merupakan tindakan atau perilaku yang menyimpang
Minuman yang mengandung alkohol (minuman keras) dapat membuat orang mabuk dan tidak dapat berfikir secara normal, karena alkohol mempunyai efek negatif terhadap sistem syaraf. Seseorang pemabuk yang tidak dapat mengendalikan dirinya lagi dapat melakukan perbuatan yang merugikan dirinya sendiri dan orang lain, dan apabila ini terjadi maka tindakannya merupakan perilaku menyimpang     
3.      Hubungan seks di luar nikah, pelacuran, dan HIV / AIDS
Hubungan seks di luar nikah merupakan tindakan atau perilaku menyimpang dan tidak dibenarkan oleh masyarakat, karena melanggar, baik norma sosial, moral, maupun norma agama. Perilaku seksual di luar nikah dapat dipengaruhi oleh pergaulan bebas, film-film, buku-buku, dan majalah yang menampilkan gambar-gambar yang tidak sesuai dengan nilai dan norma. Umumnya perilaku seks ini sering diiringi dengan pesta obat-obatan terlarang. Di samping itu kehidupan seks bebas dan pelacuran sangat rawan untuk menularkan penyakit HIV / AIDS

4.      Tindakan Kriminal
Tindakan criminal adalah tindakan kejahatan atau tindakan yang merugikan orang lain dan melanggar norma hukum, norma sosial, dan norma agama. Perbuatan yang termasuk criminal antara lain; mencuri, menodong, menjambret, memeras, membunuh, dan merusak milik orang lain. Umumnya tidak kriminal  ini berkaitan dengan masalah ekonomi, jadi perbuatan menodong, mencuri dan menjambret dilakukan karena ingin mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Pernyataan ini tidak sepenuhnya benar, ada juga orang yang melakukan tindak kriminal karena hal itu sudah merupakan profesi atau pekerjaan.
5.      Penyimpangan Seksual
Perilaku ini dianggap menyimpang karena melanggar norma-norma yang menjadi panutan dalam kehidupan masyarakat. Perilaku menyimpang ini meliputi; homosexual, lesbian, dan transsexual, Homosexual dalam adalah kecenderungan seorang laki-laki untuk tertarik pada jenis kelamin yang sejenis, sedangkan lesbian merupakan sebutan bagi wanita yang secara seksual tertarik pada jenis kelamin sesama wanita. Berbeda dengan homosexual dan lesbian, transsexual merupakan perilaku seseorang yang cenderung mengubah karakteristik seksualnya. Misalnya seorang laki-laki yang ingin menjadi perempuan, begitu juga sebaliknya.
Bila remaja dalam hal ini siswa tidak mencapai kebahagiaan, dia mengalami masalah yang serius. Menurut intensitasnya, rentang remaja yang bermasalah dapat digambarkan dalam tiga kategori utama; bermasalah wajar yang berkaitan dengan ciri-ciri masa remaja, bermasalah menengah yang berkaitan dengan tanda-tanda bahannya, dan bermasalah taraf kuat yang mencakup bermasalah yang pasif dan bermasalah yang agresif. Perilaku bermasalah yang kuat inilah yang disebut sebagai penyimpangan perilaku, karena perilaku itu dianggap menyimpang dari kewajaran karena cenderung pada rasa putus asa, tidak aman, merusak, dan melanggar berbagai peraturan.
Perilaku menyimpang atau perilaku bermasalah yang kuat dari dua sifat, yaitu agresif dan pasif. Lebih lanjut dikatakan oleh Al-Mighwar (2006: 192) bahwa:
Perilaku menyimpang yang agresif adalah bentuk-bentuk tingkah laku sosial yang menyimpang dan cenderung merusak, melanggar peraturan, dan menyerang. Banyak aspek yang menjadi objek penyimpangannya, misalnya mengambil hak milik orang lain, penyimpangan seks, suka berkelahi, membuat kegaduhan dalam masyarakat atau sekolah, dan sebaiknya. Adapun perilaku menyimpang yang pasif atau pengunduran diri adalah bentuk perilaku yang menunjukkan kecenderungan putus asa dan merasa tidak aman sehingga menarik diri dari aktifitas dan takut memperlihatkan usahanya. Dalam intensitas yang lebih tinggi, remaja yang bermasalah jenis ini sering menjadi peminum, pecandu narkotika, morfinis, bahkan bunuh diri.

Selain dari bentuk perilaku menyimpang yang dikemukakan di atas, berikut ini beberapa jenis perbuatan kenakalan yang merupakan bentuk perilaku menyimpang di kalangan remaja termasuk siswa atau pelajar, dikemukakan oleh Gunawan     (2000: 92):
1.      Peredaran pornografi di kalangan pelajar, baik dalam bentuk gambar-gambar cabul, majalah, dan cerita porno yang merusak moral anak, sampai peredaran oabt-obatan perangsang nafsu seksual, kontrasepsi, dan sebagainya.
2.      Ngebut, yaitu mengendarai kendaraan dengan kecepatan yang melampaui kecepatan maksimum yang ditetapkan sehingga mengganggu dan membahayakan pemakai jalan yang lain,
3.      Membentuk kelompok atau gang dengan norma yang menyeramkan, seperti kelompok bertato, kelompok berpakaian acak-acakan, dan sebagainya,
4.      Suka membuat pengrusakan terhadap barang-barang atau milik orang lain, seperti mencuri, membuat coretan-coretan yang mengganggu keindahan lingkungan, mengadakan sabotase. 
5.      Senang melihat orang lain celaka akibat ulah dan perbuatannya seperti membuat lubang, mentaburkan kerikil, menyiram oli dijalankan, sehingga kendaraan jatuh dan cedera karenanya.
6.      Menggangu atau mengejek orang yang lewat di depannya dan kalau marah sedikit saja dianggapnya mencari permasalahan 


D.    Upaya Pencegahan Perilaku Menyimpang
Upaya untuk mencegah agar tidak terjadi perilaku menyimpang di kalangan masyarakat secara umum dan siswa secara khusus dapat dilakukan dalam lingkungan keluarga dan lingkungan tempat tinggal. Selain itu, saat ini selain keluarga dan lingkungan sekitar termasuk lingkungan sekolah, peran media massa juga ikut mempengaruhi seseorang untuk mencegahnya berperilaku menyimpang. Adapun upaya pencegahan perilaku menyimpang dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan, antara lain melalui:

v  Keluarga   
Suasana kehidupan keluarga merupakan tempat yang sebaik-baiknya untuk melakukan pendidikan orang-seorang (pendidikan individual) maupun pendidikan sosial. Keluarga itu tempat pendidikan yang sempurna sifat dan wujudnya untuk melangsungkan pendidikan ke arah pembentukan pribadi yang utuh, tidak saja bagi kanak-kanak tapi juga bagi para remaja. Peran orang tua dalam keluarga sebagai penuntun, sebagai pengajar, dan sebagai pemberi contoh. Pada umumnya kewajiban ibu bapak itu sudah berjalan dengan sendirinya suatu tradisi dalam masyarakat (Tirtaharardja dan La Sulo, 2005).
Awal proses sosialisasi terjadi dalam lingkungan keluarga, dan dalam proses sosialisasi kepribadian seorang anak akan terbentuk, di mana keluarga merupakan faktor penentu bagi perkembangan dan pembentukan kepribadian seorang anak selanjutnya. Kepribadian seorang anak akan terbentuk dengan baik apabila ia lahir dan tumbuh perkembangan dalam lingkungan keluarga yang baik. Sebaliknya kepribadian anak akan cenderung menyimpang apabila ia lahir dan tumbuh berkembang dalam lingkungan pendidikan yang pertama dan utama.
Pendidikan keluarga itu merupakan salah satu upaya mencerdaskan kehidupan bangsa baik sehingga anak menjadi tahu dan mengerti tata krama dalam bersikap dan berperilaku yang baik dalam masyarakat. Orang tua, saudara (keluarga utama), dan anggota keluarga lainnya mempunyai peranan yang sangat besar dalam menjelaskan dan bimbingan seorang anak untuk memahami dan mentaati nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Sehingga dengan demikian serong anak paham mana perilaku yang boleh dilakukan dan mana perilaku yang tidak boleh dilakukan, baik dalam keluarga maupun masyarakat.
Demikian pula sebagai seorang anak harus taat dan patuh pada orang tua. Bimbingan, arahan, dan aturan yang diberikan oleh orang tua harus dipatuhi dan ditaati. Misalnya orang tua mengajarkan untuk belajar yang rajin, tidak melakukan perbuatan yang tidak baik, seperti merokok, terlibat narkoba, pergaulan bebas, perjudian, dan tawuran. Dengan mengikuti perintah orang tua akan terhindar dari perilaku menyimpang, disamping hal itu juga hal yang harus dilakukan agar terhindar dari perilaku menyimpang adalah menjalankan perintah agama dan menjauhi segala larangan-Nya, serta mematuhi nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat.

v  Lingkungan Tempat Tinggal, Teman Sepermainan, dan Lingkungan Sekolah 
Lingkungan tempat tinggal juga dapat mempengaruhi kepribadian seseorang untuk berperilaku menyimpang. Seseorang yang tinggal dalam lingkungan tempat tinggal yang baik, warganya taat dalam melakukan ibadah agama, dan melakukan perbuatan-perbuatan yang baik, maka keadaan ini akan mempengaruhi kepribadian seseorang menjadi baik sehingga terhindar dari perilaku menyimpang.
Demikian pula  jika seseorang tinggal di lingkungan tempat tinggal yang baik, akan mempengaruhi seseorang untuk terlibat dan terpengaruh melakukan perilaku menyimpang. Salah satu pencegahan yang harus dilakukan agar terhindar dari perilaku menyimpang adalah harus menjauhi tempat tinggal yang rawan terhadap  perilaku menyimpang, memperkuat ketaqwaan terhadap Tuhan, dan menerapkan penegakan nilai dan norma yang tegas dalam masyarakat.
Seseorang yang mempelajari nilai hidup tertentu dan moral, kemudian berhasil memiliki sikap dan tingkah laku sebagai pencerminan nilai hidup itu umumnya adalah seseorang yang hidup dalam lingkungan yang secara positif, jujur, dan konsekuen senantiasa mendukung bentuk tingkah laku yang merupakan pencerminan nilai hidup tersebut. Sehingga yang perlu diperhatikan adalah lingkungan sosial terdekat yang terutama terdiri dari mereka yang berfungsi sebagai pendidik dan pembinaan yaitu orang tua dan guru. Dengan menciptakan iklim lingkungan yang serasi, dapat meminimalisasi perilaku menyimpang yang dilakukan oleh siswa.
Demikian pula dengan teman sepermainan, dapat mempengaruhi seseorang untuk berperilaku menyimpang. Apabila berteman dengan orang yang baik, rajin belajar, pintar, dan taat pada agama, maka akan terpengaruh untuk ikut berbuat baik. Tindakan pencegahan yang harus dilakukan adalah tidak bergaul dengan sembarang orang atau berteman dengan orang-orang yang melakukan perilaku menyimpang.



v  Media Massa
Pada umumnya media massa mempunyai tiga fungsi, yakni informasi, edukasi, dan rekreasi. Media massa sebagai alat komunikasi dan rekreasi yang menjangkau banyak orang telah menjadi suatu kekuatan pendorong yang besar dalam kehidupan orang. Media massa mempunyai sumbangan yang besar dalam mengintegrasikan kebudayaan serta mensosialisasikan generasi muda. Karena biayanya yang tidak mahal, mudah diperoleh, serta menarik. Anak-anak menggunakan waktu yang lebih banyak dalam menonton televisi, mendengarkan radio, menonton bioskop, dan membaca komik jika dibandingkan dengan kegiatan-kegiatan lainnya.
Media massa memiliki tiga macam pengaruh, hal ini telah dikemukakan oleh Tirtarahardja dan La Sulo (2005: 183), yaitu:
1.      Pengaruh sosialisasi dalam arti luas, utamanya tentang sikap dan nilai-nilai dasar masyarakat serta model tingkah laku dalam berbagai bidang kehidupan
2.      Pengaruh khusus jangka pendek, media massa menyebabkan orang membeli produk tertentu ataupun memberi suara/pendapat tentang cara tertentu
3.      Media massa memberikan pendidikan dalam pengertian lebih forma, yaitu dalam memberikan informasi atau penyajian pengajaran dalam suatu bidang studi tertentu.   

Ketiga  fungsi ini tentu saja di luar dari fungsi memberikan rekreasi dan hiburan. Meskipun melalui fungsi rekreasi itu, media dapat pula mempengaruhi perilaku manusia.
Media massa, baik cetak maupun elektronik merupakan suatu wadah sosialisasi yang dapat mempengaruhi seseorang dalam berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Langkah-langkah pencegahan agar tidak terpengaruh akibat media massa adalah apabila ingin menonton acara di televisi, pilih acara yang bernilai positif dan menghindari menyaksikan tayangan yang dapat membawa pengaruh buruk
Selain itu, permintaan perlu memperketat sensor terhadap tayangan media massa, sehingga dapat mencegah terjadinya perilaku menyimpang. Peran orang tua dan guru juga harus memberi pengertian dan mengawasi anak-anak (siswa) agar tidak menonton acara yang dapat menjerumuskan untuk melakukan perilaku yang menyimpang.   

    
III.   PENUTUP

A.    Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat diambil beberapa kesimpulan, yaitu:
1.      Perilaku menyimpang merupakan bentuk perilaku yang dilakukan oleh seseorang siswa yang tidak sesuai dengan norma dan nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat, baik secara langsung maupun secara tidak langsung akan mempengaruhi belajarnya yang pada akhirnya menurutnya prestasi yang diperoleh di sekolah
2.      Jenis-jenis perilaku menyimpang yang terjadi di kalangan siswa yang dapat mempengaruhi prestasi belajarnya antara lain: tawuran, penyalahgunaan narkotika, obat-obatan terlarang, dan minuman keras, serta tidak criminal dan penyimpangan seksual yang dapat berakibat pada penularan penyakit HIV/AIDS.
3.      Upaya pencegahan perilaku menyimpang secara khusus dapat dilakukan dalam lingkungan keluarga dan lingkungan tempat tinggal.

B.     Saran
Untuk menghindari perilaku menyimpang siswa yang dapat mempengaruhi prestasi belajarnya, maka kami serahkan kepada semua pihak yang terkait, baik pemerintah, orang tua, dan guru untuk melakukan pengawasan terhadap hal-hal yang dapat menimbulkan munculnya perilaku menyimpang.         

DAFTAR PUSTAKA

Al-Mighwar, M. 2006. Psikologi Remaja Petunjuk bagi Guru dan Orangtua. Bandung: pustaka Setia
Cohen, B. J. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Bina Aksara
Lawang, R. M. Z. 1986. Sistem Sosial Indonesia. Jakarta: Universitas Terbuka  
Gunawan, A. H. 2000. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta
Seokanto, S. 2004. Sosiologi Keluarga. Jakarta: Rineka Cipta
Umasih. 2007. Ilmu Pengetahuan Sosial Terpadu. Jakarta: Ganeca Exact

1 komentar: